UPACARA OTONAN

Kamis, 10 November 2011

Pendidikan keaksaraan dasar di Desa Dukuh

Yayasan Widya santhi Mandiri Mengabdi Pendidikan Keaksaraan Dasar merupakan salah satu program pendidikan non formal yang bertujuan untuk memberantas buta aksara di Indonesia. pada kesempatan ini Yayasan Widya santhi Mandiri diberikan kesempatan untuk ikut berpartisipasi mengabdi membangun desa Dukuh menjadi desa bebas buta aksara.

Rabu, 05 Mei 2010

UPACARA TIGA BULANAN DAN OTONAN

Posted by Ketut Adi on 2004-07-06 [ print artikel ini | beritahu teman | dilihat 1005 kali ]
Om Swastyastu,

Tujuan UPACARA TIGA BULANAN sudah saya jelaskan. Yang mungkin perlu dijelaskan lebih lengkap adalah urutan upacara dan symbol (niyasa) yang digunakan.

Urutan upacara :
1) ayah dan ibu bayi mebeakala dengan tujuan menghilangkan cuntaka karena melahirkan.
2) Nyama bajang dan kandapat "diundang" untuk dihaturi sesajen sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat bayi sejak dalam kandungan sampai lahir dengan selamat. Tattwa yang sebenarnya adalah syukuran kehadapan Hyang Widhi atas kelahiran bayi.
3) Si Bayi natab banten bajang colong artinya menerima lungsuran (prasadam) dari "kakaknya" yaitu kandapat (plasenta : ari-ari, getih, lamas, yeh-nyom)
4) si Bayi "mepetik" (potong rambut, terus digundul, menghilangkan rambut "kotor" yang dibawa sejak lahir).
5) Si Bayi "mapag rare" (disambut kelahirannya) di Sanggah pamerajan, memberi nama, dan menginjakkan kaki pertama kali di tanah didepan Kemulan.
6) Si Bayi menerima lungsuran (prasadam) Hyang Kumara yaitu manifestasi Hyang Widhi yang menjaga bayi.
7) Si Bayi "mejaya-jaya" dari Sulinggih, yaitu disucikan oleh Pendeta.

Symbol (niyasa) yang digunakan dalam upacara Tiga Bulanan : Regek yaitu anyaman 108 helai daun kelapa gading berbentuk manusia, sebagai symbol Nyama Bajang; Papah yaitu pangkal batang daun kelapa gading sebagai symbol ari-ari, Pusuh yaitu jantung pisang sebagai symbol getih (darah), Batu sebagai symbol yeh-nyom, Blego sebagai symbol lamas, ayam sebagai symbol atma, sebuah periuk tanah yang pecah sebagai symbol kandungan yang sudah melahirkan bayi, lesung batu sebagai symbol kekuatan Wisnu, pane symbol Windu (Hyang Widhi), air dalam pane symbol akasa, tangga dari tebu kuning sepanjang satu hasta diberi palit (anak tangga) tiga buah dari kayu dapdap symbol Smara-Ratih (Hyang Widhi yang memberi panugrahan kepada suami-istri).

Upacara otonan lebih sederhana dari tiga bulanan, karena tujuannya mengucapkan syukur kepada Hyang Widhi atas karunia berupa panjang umur, serta mohon keselamatan dan kesejahteraan.

Yang diragukan oleh ortu anda, mungkin masalah tirta dari Sanggah Pamerajan ketika upacaranya di Jakarta. Jika upacara di Jakarta sudah seperti diatas, atau mendekati seperti itu, sudah cukup. Nanti di Bali dibuatkan tataban di Sanggah pamerajan yang dinamakan upacara "mapinton" yaitu memperkenalkan dan melaporkan kelahiran si bayi kepada roh leluhur yang distanakan di Sanggah Pamerajan. Namun jika ortu berkeras juga mau mengadakan upacara tiga bulanan dan otonan, sebaiknya turuti saja, karena beliau mungkin ingin mencurahkan kasih sayangnya kepada cucunya. Nah dengan demikian anda kan juga berbhakti kepada ortu dan membuat beliau senang, asal saja biayanya terjangkau.

Demikian penjelasan saya,

Om santi, santi, santi, Om.

Bhagawan Dwija

sumber: milis HDnet

Senin, 03 Mei 2010

syber sex

Masa remaja adalah masa periode mengenai terjadinya perubahan-perubahan yang dialami dari masa kanak-kanak menuju dewasa dan memberikan dampak langsung pada individu yang bersangkutan untuk mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Status remaja terkadang tidak jelas, keadaan ini menyebabkan remaja mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya dimana akan terjadi penuh gejolak dalam pencarian jati diri dan identitas, masa yang penuh tekanan dan kekacauan emosional dan pada masa ini banyak sekali godaan dan gangguan. Maka dari itu, usia remaja merupakan bagian dari kehidupan yang paling riskan yang dihadapi oleh seseorang, karena pada saat itulah seseorang dihadapkan pada berbagai macam pilihan untuk menjalani kehidupan pada fase-fase selanjutnya (Hurlock, 1992).
Kaum remaja seringkali tidak punya pegangan. Di satu sisi baru saja beranjak dari usia kanak-kanak, di mana pada masa-masa itu hanya menggunakan satu logika, yaitu meniru. Di sisi lain, juga baru mulai menjajaki kehidupan orang dewasa yang penuh dengan pilihan dan terbukanya akses-akses yang sebelumnya tidak bisa dibuka. Hal ini kadang-kadang menyebabkan mereka mendapat informasi yang salah dan tidak sesuai dengan nilai moral yang berkembang di masyarakat. Apabila kedua hal tersebut terjadi, maka pada usia ini muncul keinginan untuk memberontak, baik pada orang tua, guru, tatanan nilai-nilai adat dan agama.
Seiring perkembangan dan pertumbuhan fisik pada remaja, terjadi pula perubahan dan perkembangan di dalam tubuhnya. Kelenjar kanak-kanaknya telah berakhir, berganti dengan kelenjar endokrin yang memproduksi hormone, sehingga menggalakkan pertumbuhan organ seks yang tumbuh menuju kesempurnaan. Organ seks menjadi besar disertai dengan kemampuannya untuk melaksanakan fungsinya. Pada fase ini, remaja mulai tertarik pada lawan jenis dan pada umumnya mereka tertarik pada orang yang memiliki wajah yang tampan atau cantik. Akibat dari ketertarikan pada lawan jenis inilah para remaja mengenal istilah pacaran yang justru bila dilakukan secara menyimpang akan dapat membahayakan dirinya sendiri. Seiring dengan perkembangan jaman seperti sekarang ini, para remaja mulai merubah gaya berpacaran seperti gaya pacaran orang dewasa, misalnya mereka sudah mempelajari bagaimana cara melakukan hubungan seksual dengan pasangannya.
Di Denpasar, berdasarkan data Lembaga Remaja Kita Sayang Remaja (KISARA) Bali tercatat sekitar 10,6 persen remaja umur 14-17 tahun di Kota Denpasar mengaku pernah melakukan hubungan seksual. Selain itu 40,6 persen menceritakan kejadian tersebut kepada temannnya. Data tersebut terungkap dari hasil survey yang dilakukan Kisara Bali selama September 2008 hingga Januari 2009. Dari 10,6 persen remaja Kota Denpasar yang mengaku pernah melakukan hubungan seksual hanya 20 persen yang sadar menggunakan kondom (KISARA, 2009). Survei Kesehatan Remaja Indonesia (SKRRI) 2003 yang dilakukan oleh BPS menyebutkan laki-laki berusia 15-19 belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual tahun sebanyak 43,8 persen. Perempuan berusia 15-19 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 42,3 persen (SKRRI, 2003).
Bahkan, menurut data dari Lembaga Remaja Kita Sayang Remaja (KISARA) Bali lebih dari seperempat masalah pacaran yang masuk ke konseling telepon lembaga KISARA PKBI Bali hasil pencatatan hingga Juli tahun 2005, berkaitan dengan aktivitas seksual remaja, dan terdapat kecenderungan mereka baru berkonsultasi setelah seksual aktif. Awal keterlibatan mereka dalam hubungan seksual pranikah sebagian disebutkan karena coba-coba dan tanpa direncanakan, karena terbawa suasana dan adanya dorongan seksual muncul karena ada pengaruh dari beberapa media pornografi yang pernah diakses (KISARA, 2005).
Salah satu faktor dari paparan di atas adalah perkembangan teknologi dan informasi yang mulai berkembang pesat yang mempengaruhi remaja masa kini. Banyak dampak positif dan negatif yang bisa didapat dari perkembangan teknologi dan informasi. Dampak positifnya, para remaja bisa sangat cepat mengakses informasi yang mereaka inginkan. Dan salah satu contoh dampak negatif dari internet adalah banyaknya bermunculan situs-situs porno yang dapat merusak mental dan moral bagi individu yang mengakses situs tersebut. Remaja masa kini umumnya sudah mengetahui hal itu tetapi mereka malah lebih cenderung semakin menggunakan internet untuk mengalses situs-situs tersebut untuk sekedar melihat-lihat atau bahkan dijadikan acuan dalam menjalani kehidupan nyata.
Fenomena yang menarik terjadi sekarang di kota denpasar adalah gaya berpacaran bebas para remaja yang dilakukan di dunia maya yang dikenal dengan nama cybersex. Situs ini tidak sedikit kecanduan bagi pengguna jasanya. Cybersex adalah seks virtual di mana penggunanya dua atau lebih telah terhubung melalui jaringan komputer dan mengirim suatu pesan yang menggambarkan pengalaman seksual satu sama lain secara eksplisit. Ini adalah bentuk peran-bermain di mana peserta berpura-pura memiliki hubungan seksual. Dalam satu interaksi seks adalah fantasi ini dilakukan oleh para peserta menjelaskan tindakan mereka dan menanggapi mitra chatting mereka dalam bentuk tertulis yang sebagian besar dirancang untuk merangsang perasaan seksual mereka sendiri. Cybersex juga dapat dicapai melalui penggunaan avatar di sebuah lingkungan perangkat lunak Multiuser. Itu artinya hanya dengan membuka situs tersebut mereka sudah dapat melakukan hubungan intim dengan lawan jenisnya walaupun hanya melalui internet (Nancy Deuel, 1996). Walaupun perkembangan gaya berpacaran cybersex ini sudah terjadi beberapa tahun di kota Denpasar namun fenomena ini baru hanya menyentuh kalangan remaja saja.
Kehadiran gaya berpacaran baru seperti cybersex akan membawa masalah baru dalam dinamika kehidupan remaja di kota Denpasar. Masalah-masalah yang akan terjadi jika pada remaja atau siswa di kota Denpasar terus melakukan gaya pacaran dengan cybersex adalah masalah kehamilan yang terjadi pada remaja diluar pernikahan, maraknya penyakit seksual pada remaja atau siswa akibat keinginan untuk melakukan seks seperti yang dilakukan di dunia maya sehingga memberikan budaya yang tidak tepat untuk generasi muda di kota Denpasar. Salah satu solusinya adalah dengan memberikan Media Online Cyber Sexual Counseling (CSC) dengan memanfaatkan internet sebagai ruang konsultasi sekaligus sarana pendidikan seksual bagi para remaja.

Transpalasi karang

Beraneka jenis hayati dapat ditemukan di berbagai pelosok bumi kita ini. Bahkan suatu daerah memiliki kekhasan tersendiri jenis hayatinya dan ini menjadikannya sebagai icon untuk daerah itu dan menunjang pariwisata mereka. Salah satu hayati yang kita kenal keunikannya adalah terumbu karang. Dengan kontur dan teksturnya yang keras seperti batu, banyak yang mengira bahwa terumbu karang itu bukan mahluk hidup. Hal inilah yang menjadikannya sebagai daya tarik tersendiri. Terumbu karang dapat ditemukan hampir di seluruh perairan es di Artik dan Antartika, hingga ke perairan tropis yang jernih.
Pusat keanekaragaman hayati laut dunia, terutama terumbu karang terletak di kawasan segitiga karang. Kawasan ini meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon. Jika ditarik garis batas yang melingkupi wilayah terumbu karang di keenam negara tersebut maka akan menyerupai segitiga. Itu sebabnya wilayah tersebut disebut sebagai segitiga karang dunia (coral triangle). Total luas terumbu karang di coral triangle sekitar 75.000 kilometer persegi. Indonesia sendiri memiliki luas total terumbu karang sekitar 51.000 kilometer persegi yang menyumbang 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di coral triangle.
Untuk di Bali sendiri, keberadaan terumbu karang merupakan satu poin penunjang sektor pariwisata. Keindahan alam merupakan salah satu aset utama pariwisata selain adat dan budaya Bali. Panorama bawah laut Bali yang mempesona dengan keindahan terumbu karang dan ikan yang berwarna-warni sudah terkenal di dunia, yang memberikan daya tarik tersendiri bagi para turis domestik maupun mancanegara. Banyak daerah pesisir di daerah Bali menawarkan keindahan bawah lautnya, seperti; Tanjung Benoa, Tulamben, Sanur, Nusa Penida, dan beberapa tempat pesisir lainnya (Marthen, 2003).
Keindahan terumbu karang bukan saja karena penampilan fisiknya saja, namun nilai keindahan terumbu karang adalah karena dia merupakan makhluk yang sangat rentan. Perubahan suhu air yang radikal atau bomb fishing dan potassium adalah ancaman-ancaman yang sebisa mungkin dijauhkan. Perjalanan waktu yang sangat panjang itu tentu disayangkan harus rusak oleh satu injakan kaki, satu lemparan jangkar, atau yang lebih kejam satu ledakan bom atau satu liter potassium yang dituang ke laut. Tapi itulah faktanya banyak terumbu karang kita yang rusak. Bahkan di seluruh dunia. Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman karang yang sangat tinggi. Di seluruh dunia, wilayah yang memiliki kekayaan jenis karang tertinggi terdapat di Indonesia, Philipina, Papua New Guinae dan pulau-pulau kecil di timurnya yang masuk dalam region Indo-Pasific (Baluran, 2010).
Kerusakan terumbu karang yang banyak terjadi di dunia, menurut Marthen (2003) juga terjadi di Bali. Sejak tahun 2002 hingga kini pembangunan hotel ataupun bangunan penunjang pariwisata yang lainnya di Bali menyebabkan kerusakan pada terumbu karang. Terumbu karang dapat dikatakan sebagai salah satu hayati yang multitalenta. Dikatakan multitalenta karena terumbu karang dapat diolah menjadi salah satu daya tarik dalam pengembangan sebuah obyek wisata, belum lagi ada sentra pengrajin yang menggunakan terumbu karang sebagai bahan baku utama dan kegiatan ekspor karang hias. Semua kegiatan tersebut tidak akan mengganggu habitat asli terumbu karang. Namun faktanya, demi meningkatkan perekonomian, masyarakat di Bali kurang memperhatikan lingkungannya. Sehingga habitat terumbu karang menjadi rusak dan jelas hal ini nantinya akan berdampak pada menurunnya produktivitas para masyarakat yang bergelut pada obyek wisata yang menawarkan keindahan terumbu karang (Marthen, 2003).
Berdasarkan perhitungan bank dunia, penangkapan ikan dengan racun hanya memberikan manfaat sebesar 330 juta per kilometer persegi terumbu karang dalam jangka waktu analisis 25 tahun. Tetapi kerugian yang ditimbulkan akibat penurunan hasil tangkapan dan pariwisata sebesar 430 juta sampai dengan 4,76 milyar per tahun per kilometer persegi. Manfaat yang didapat perorangan dari penangkapan dengan bahan peledak hanya 150 juta, tetapi kerugiannya mencapai 980 juta sampai dengan 6,1 milyar per kilometer persegi karena fungsi perikanan menurun, fungsi perlindungan pantai hilang dan fungsi pariwisata habis. Kerugian yang ditimbulkan akibat pengambilan batu karang juga tidak sedikit, yakni sekitar 1,76 milyar sampai dengan 9,03 milyar, sedangkan keuntungan perorangan hanya 1,21 milyar per kilometer persegi. Selain itu, praktik penangkapan ikan dengan cara destruktif ini juga akan merugikan sekitar 52,14 milyar, sedangkan manfaat jangka pendek didapatkan hanya 47,5 milyar. Artinya, manfaat neto yang dinikmati masyarakat minus 460 milyar, artinya masyarakat akan menjadi rugi. Bayangkan apabila kerugian seperti ini akan dialami Bali, pastinya kesejahteraan masyarakatnya akan terganggu, bahkan dalam skala nasional dapat mengganggu perekonomian Indonesia, mengingat pulau Bali merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar untuk negara ini (Anonim, 2002).
Berbagai pihak mulai dari lembaga swadaya masyarakat, aktivis lingkungan, pemerintah dan masyarakat kini mulai tergerak untuk menperbaiki kerusakan terumbu karang tersebut. Salah satu upaya dengan melakukan transplantansi organ terumbu karang. Transpalantasi terumbu karang yang dicanangkan adalah satu cara rehabilitasi terhadap terumbu karang yang rusak. Memang masih ada kontroversi mengenai rehabilitator ini, mengingat ada pendapat ketidak efisienan dari program ini tidaklah sedikit. Melihat fakta-fakta tersebut, penulis tertarik untuk meneliti tentang “Analisis Peluang Penerapan Konsep Transplantasi Organ Terumbu Karang Sebagai Penunjang Sektor Pariwisata Bahari di Bali”.
Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui konsep transplantasi organ terumbu karang sebagai penunjang sektor pariwisata bahari di Bali serta untuk mengetahui peluang penerapan konsep transplantasi organ terumbu karang sebagai penunjang sektor pariwisata bahari di Bali. Sedangkan ruang lingkup penulisan ini adalah sebatas memberikan gambaran konsep dan kemungkinan penerapan konsep transplantasi organ terumbu karang sebagai penunjang sektor pariwisata bahari di Bali. Penulisan ini menggunakan metode metode studi pustaka. Penulisan dilakukan di Denpasar pada tanggal 27 Maret-18 April 2010. Setelah data terkumpul, dilakukan pengolahan data secara sistematis dan logis menggunakan teknik analisis deskriptif argumentatif, dengan tulisan bersifat deskriptif.
Konsep transplantasi organ terumbu karang merupakan salah satu upaya rehabilitasi terumbu karang yang semakin terdegradasi melalui pencangkokan atau pemotongan karang hidup yang selanjutnya ditanam di tempat lain yang mengalami kerusakan atau menciptakan habitat baru. Konsep transplantasi organ terumbu karang meliputi cara transplantasi bibit karang pada substrat buatan; persemaian di dasar laut; cara pemeliharaan; pemantauan; pemanfaatan. Dari analisis yang dilakukan terhadap penerapan konsep transplantasi organ terumbu karang dengan menggunakan analisis SWOT maka disimpulkan bahwa transplantasi organ terumbu karang layak diterapkan sebagai penunjang sektor pariwisata bahari di Bali.
Sedangkan beberapa hal yang dapat direkomendasikan adalah diperlukan suatu kebijakan integratif yang melibatkan berbagai pihak untuk pengadaan transplantasi organ terumbu karang, upaya monitoring masih diperlukan dalam pengadaan transplantasi organ terumbu karang yang optimal, serta Penerapan konsep ini memerlukan kajian lebih lanjut dan mendalam. Selain untuk mensimulasikan kebijakan-kebijakan yang tepat, upaya ini juga bertujuan untuk meminimalisasi dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh aplikasi konsep transplantasi organ terumbu karang sebagai penunjang sektor pariwisata bahari di Bali.
Kata kunci: Analisis Peluang Penerapan, Konsep Transplantasi Organ Terumbu Karang, Pariwisata Bahari di Bali.

penelitian widiana

BAB I
PENDAHULUAN

Bab pendahuluan memaparkan (1) latar belakang masalah, (2) identifikasi masalah, (3) pembatasan masalah, (4) rumusan masalah, (5) tujuan penelitian, (6) manfaat penelitian, dan (7) ruang lingkup dan keterbatasan penelitian.

1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi ini, tidak dapat dipungkiri bahwa kejayaan dan kesejahteraan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreativitas berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru dari anggota masyarakat. Sumbangan kreativitas masyarakat terutama dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) sekarang ini mengalami perkembangan yang sangat cepat dan pesat, sehingga menuntut adanya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan bernalar tinggi. Peningkatan Sumber Daya Manusia yang berkualitas merupakan salah satu tugas utama dalam bidang pendidikan. Hal itu karena pendidikan mampu melahirkan dan menumbuhkan manusia yang memiliki kemampuan berpikir logis, berpikir kritis, berpikir kreatif, berinisiatif, dan adaptif terhadap perubahan dan perkembangan IPTEK (Suastra, 2006).
Permasalahan penting yang dihadapi oleh dunia pendidikan sampai saat sekarang ini adalah bagaimana mengupayakan membangun pemahaman (Brooks & Brooks, 1993) dan memberdayakan kemampuan berpikir (Gagne, 1980; Krulik & Rudnick, 1995). Dalam pembelajaran, pemahaman jauh lebih penting dari prestasi belajar (achievement) yang diukur dengan pencapaian skor tes (Brooks & Brooks, 1993), yang hanya lebih menekankan pada menghafal pengetahuan. Pendidikan IPA (fisika) merupakan salah satu pendidikan yang berpotensi memainkan peranan strategis dalam kemajuan dan perkembangan IPTEK. Potensi yang dilahirkan dari pendidikan IPA (fisika) diantaranya adalah mampu menumbuhkan masyarakat yang kreatif dan inovatif. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan IPA (fisika).
Beberapa upaya yang telah dilakukan diantaranya adalah (1) meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan, seperti penyediaan buku paket, bantuan alat & bahan percobaan, dan bantuan operasional siswa, (2) peningkatan kualitas tenaga pengajar melalui penataran dan pelatihan serta seminar, Program Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dan program kemitraan antar sekolah dengan lembaga kependidikan, (3) perbaikan & pengembangan kurikulum, yang salah satunya adalah perubahan kurikulum dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) serta program-program pemerintah yang lain yang menunjang peningkatan mutu pendidikan. Usaha-usaha tersebut telah dilakukan secara berkala dan intensif, tetapi permasalahan tersebut belum sepenuhnya terpecahkan. Dengan kata lain, masih tetap diperlukan usaha-usaha yang lebih inovatif untuk pelaksanaan reformasi pendidikan.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, namun upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang optimal. Hal ini tampak dari berbagai indikator yang menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas proses dan produk pembelajaran IPA (fisika) kita masih jauh dari harapan (Wartawan, 2006). Kualitas proses pembelajaran fisika dewasa ini pelaksanaannya tidak lebih sebagai kegiatan pembelajaran yang bersifat reguler. Sedangkan kualitas produk pembelajaran fisika dapat dilihat dari nilai NUAS (Nilai Ujian Akhir Sekolah) yang dari tahun ke tahun masih tergolong rendah. Kabupaten Buleleng adalah salah satu kabupaten di Bali yang menunjukkan bahwa nilai NUAS mata pelajaran fisika masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari NUAS rata-rata mata pelajaran fisika pada tahun ajaran 2004/2005 adalah 5,63; tahun ajaran 2005/2006 adalah 5,91; dan tahun ajaran 2006/2007 adalah 5,95 (Dinas Kota Denpasar, 2007). Walaupun NUAS bukan satu-satunya ukuran untuk menilai keberhasilan siswa, namun paling tidak dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi pelajaran fisika.
Rendahnya kualitas pendidikan IPA (fisika) yang dihasilkan di kabupaten Buleleng tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhinya, salah satu faktornya adalah proses pembelajaran. Proses pembelajaran fisika yang telah berlangsung selama ini lebih berorientasi pada buku-buku paket atau penunjang serta mengajar di kelas dengan metode ceramah demi ketuntasan dan ketercapain kurikulum. Proses pembelajaran dengan menggunakan ceramah tanpa mengkaitkan gejala alam dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan belajar menjadi membosankan. Selain itu, proses pembelajaran dengan metode ceramah kurang merangsang siswa untuk belajar berpikir tetapi hanya akan melatih siswa untuk belajar menghafal sehingga menghambat perkembangan bakat dan kreativitas siswa.
Dipihak lain, dalam pasal 19 ayat 1 dari PP No. 19 tahun 2006 tentang standar proses pendidikan yang menjadi dasar pengembangan KTSP, pemerintah mengamanatkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan peserta didik serta psikologis peserta didik. Amanat ini didukung oleh pendapatnya Calg Sagan (dalam Yasa, 2007) yang mendefinisikan proses pembelajaran IPA (fisika) sebagai sebuah cara berpikir menemukan bagaimana alam bekerja dan bagaimana aturannya, bukan hanya sebagai sekumpulan pengetahuan atau teori alam. Oleh sebab itu untuk mampu mewujudkan belajar bermakna dalam proses pembelajaran, maka diperlukan transformasi pendidikan dari belajar secara menghafal ke belajar berpikir. Hal ini dapat terwujud bila pendekatan pembelajaran yang digunakan lebih bervariasi dan berpusat pada peserta didik.
Berdasarkan pada konsep dasar KTSP sebagai kurikulum operasional pada tingkat satuan pendidikan, model pembelajaran apapun yang dilakukan sebagai inovasi proses pembelajaran haruslah mengacu pada standar proses yang diamanatkan yaitu diantaranya memberikan pengalaman belajar yang melibatkan keterampilan berpikir yang akan mengembangkan kreativitas siswa (Yasa, 2006). Keterampilan berpikir dapat dikelompokkan menjadi keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Presseisen dalam Costa). Keterampilan berpikir tingkat tinggi dapat dikatagorikan menjadi keterampilan berpikir kritis dan berpikir kreatif.
Terkait dengan pelaksanaan reformasi pendidikan, Gardner (1999b) menyampaikan bahwa tujuan umum pendidikan seharusnya diarahkan pada pencapaian pemahaman untuk penguasaan berbagai bidang disiplin. Pemahaman adalah suatu proses mental terjadinya adaptasi dan transformasi ilmu pengetahuan (Gardner, 1999b). Dalam beberapa taksonomi pembelajaran, pemahaman menduduki posisi pada tingkatan kognitif yang berbeda. Berdasarkan taksonomi Gagne, pemahaman berada pada level informasi verbal (verbal information), menurut taksonomi Bloom pada level comprehension, menurut taksonomi Anderson pada level pengetahuan deklaratif (declarative knowlwdge), berdasarkan taksonomi Merrill pada level remember paraphrased, dan menurut taksonomi Reigeluth pada level memahami hubungan-hubungan (understand relationship) (Reigeluth & Moore, 1999). Penjelasan tersebut mengindikasikan bahwa pemamahan memerlukan prasyarat pengetahuan pada level yang lebih rendah dan merupakan prasyarat untuk meraih pengetahuan pada level yang lebih tinggi seperti penerapan, analisis, sintesis, evaluasi, wawasan, dan kebijakan seseorang.
Berdasarkan deskripsi tersebut, maka pemahaman dalam pembelajaran IPA dimaksudkan sebagai kemampuan untuk: (1) mengingat dan mengulang konsep, prinsip, dan prosedur, (2) mengidentifikasi dan memilih konsep, prinsip, dan prosedur, (3) menerapkan konsep, prinsip, dan prosedur. Ketiga dimensi pemahaman dalam penelitian ini merupakan kemampuan berpikir dasar (basic thinking skill) dalam tangga kemampuan berpikir (Krulik & Rudnick, 1995). Pemahaman adalah basic thinking skill yang merupakan dasar untuk pencapaian kemampuan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kreatif adalah proses terorganisasi yang melibatkan proses mental yang menyangkut di dalamnya pemecahan masalah, pengambilan keputusan, menganalisis, dan aktivitas inkuiri ilmiah (Ennis, 1985). Berpikir kreatif menggunakan dasar menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap makna dan interpretasi. Pola berpikir ini mengembangkan penalaran yang kohesif, logis, dapat dipercaya, ringkas dan meyakinkan (Ennis, 1985). Orang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif akan dapat bertindak secara normatif, siap bernalar tentang sesuatu yang dilihat, dengar atau pikirkan serta mampu memecahkan permasalahan yang dihadapinya (Redhana, 2003a). Menurut Santyasa (2006), ciri-ciri orang yang memiliki kompetensi berpikir kritis dan kreatif adalah cermat, suka mengklasifikasi, terbuka, emosi stabil, segera mengambil langkah-langkah ketika situasi membutuhkan, suka menuntut, menghargai perasaan dan pendapat orang lain.
Kondisi yang ada pada saat ini justru terjadi sebaliknya, pengemasan pembelajaran IPA terutama fisika untuk pemahaman dan kemampuan berpikir kritis dan kreatif belum ditangani secara sistematis. Guru kurang kreatif untuk menciptakan kondisi yang mengarahkan siswa agar mampu mengintegrasikan konstruksi pengalaman kehidupannya sehari-hari di luar kelas dengan konstruksi pengetahuannya di kelas. Sebagai akibatnya, pencapaian tujuan esensial pendidikan IPA mengalami kegagalan. Hal ini terbukti dari masih rendahnya kualitas proses dan hasil pembelajaran IPA di sekolah menengah pertama.
Rendahnya pemahaman siswa akan berpeluang menimbulkan salah pemahaman (misunderstanding) atau miskonsepsi (misconception) di kalangan siswa. Penelitian mengenai pemahaman-pemahaman konsep fisika pada tingkatan sekolah menengah pertama sangat mengecewakan. Dan ini menandakan bahwa pendidikan kita perlu melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran fisika dewasa ini. Kompleksitas miskonsepsi siswa merupakan indikator bahwa proses pembelajaran fisika terutama di SMA secara umum belum optimal. Hal ini cukup memberikan indikasi bahawa secara umum pembelajaran IPA SMA cenderung merupakan aktivitas regularitas konvensional. Tindak pembelajaran konvensional tersebut diduga kuat sebagai penghalang pencapaian pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kreatif siswa.
Kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu keterampilan berpikir yang dapat melahirkan kreativitas siswa. Kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan seseorang untuk mengkombinasikan pengalaman-pengalaman masa lampau dengan pengalaman baru untuk memikirkan dan menemukan cara pemecahan masalah yang tepat yang tercermin dari kelancaran, keluwesan, orisinalitas, dan elaborasi dalam berpikir (Munandar U, 2004). Sehingga orang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif akan selalu siap mengembangkan atau menemukan ide/hasil yang asli, estetis, konstruktif, khususnya dalam menggunakan informasi dan bahan untuk memunculkan atau menjelaskannya dengan perspektif asli pemikir.
Suastra (2006) mengemukakan terdapat berbagai keuntungan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui pembelajaran IPA (fisika) yaitu: (1) siswa memiliki kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, (2) kemampuan berpikir kreatif akan memberikan kepuasaan tersendiri pada individu artinya dalam proses pembelajaran siswa cenderung bertambah semangat dan bergairah untuk belajar, (3) kemampuan berpikir kreatif melibatkan metakognisi meliputi kemampuan-kemampuan siswa untuk menentukan tujuan belajarnya, keberhasilan pencapainnya, dan memilih alternatif-alternatif mencapai tujuan itu, (4) kemampuan berpikir kreatif memungkinkan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Walaupun kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu kemampuan penting yang harus dimiliki manusia sejak dini, namun kenyataan dilapangan berbeda, sekolah-sekolah masih belum mengembangkan kemampuan berpikir kreatif siswa dengan baik. Hal ini ditunjukan dengan penemuan Sumiawan dan Alim (2004) yang menyatakan bahwa sampai saat ini kemampuan berpikir kreatif siswa belum dikembangkan secara baik di sekolah. Lebih lanjut, studi yang dilakukan Suastra dan Kariasa (2001) menemukan bahwa dalam pembelajaran sains di sekolah, kemampuan berpikir kreatif siswa kurang mendapat perhatian serius dan belum dikembangkan secara baik. Guru lebih memfokuskan diri pada pemberian informasi yang sudah jadi, seperti menghafal konsep-konsep, prinsip-prinsip sains yang ada dalam buku teks siswa. Begitu juga soal-soal yang diberikan pada siswa dalam tes formatif, sumatif, maupun ulangan harian lebih banyak menuntut siswa untuk menghafalkan atau mengulang informasi-informasi yang ada dalam buku teks siswa. Berdasarkan permasalahan ini, maka perlu dilakukan reorientasi pembelajaran sains menuju pada pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa pada masa mendatang.
Carin Sund (1975) menyarankan bahwa dalam belajar sains agar diarahkan pada pemberian kesempatan kepada siswa secara aktif memperoleh pengetahuan, keterampilan berpikir, apresiasi dan pengertian tentang materi subyek (subject matter). Pendapat ini juga didukung oleh Marzano et al (1998) yang menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan pemikir-pemikir yang matang yang dapat menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan nyata. Untuk itu strategi belajar hendaknya ditujukan kepada student centered. Dengan kata lain, siswa terlibat sepenuhnya pada proses pembelajaran.
Guru sebagai pendidik berkewajiban untuk memberikan alternatif terbaik bagi anak didik untuk mempelajari IPA khususnya fisika. Alternatif yang dimaksud tersebut harus dapat menantang dan menggugah pikirannya, merangsang kebiasaan berpikir, dan melakukan tindakan yang berhubungan dengan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Salah satu strategi pembelajaran inovatif yang dapat merangsang keterampilan berpikir siswa adalah strategi pemecahan masalah. Hal ini senada dengan tujuan utama pengajaran fisika di sekolah yaitu membantu siswa mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama dan menerapkannya untuk memecahkan masalah (Heler, Keith dan Anderson, 1992; Reif, 1995; Leonard, Dufresne, dan Mestre, 1996).
Pemecahan masalah (Problem Solving) merupakan bagian integral dari proses belajar dan mengajar fisika di sekolah maupun di Universitas (Tao dalam Suma, 2005). Secara umum tujuan pembelajaran pemecahan masalah adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Menurut Tao (dalam Suma, 2005) pemecahan masalah merupakan sarana memperdalam pemahaman konsep-konsep dan prinsip-prinsip utama, dan membantu pebelajar untuk menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip itu pada berbagai persoalan. Bila siswa mampu memecahkan masalah yang mewakili kejadian-kejadian nyata maka mereka akan terlibat dalam perilaku berpikir.
Pembelajaran pemecahan masalah yang terjadi dewasa ini lebih mengarah pada pembelajaran kompetisi atau kompetitif. Dimana dalam pembelajaran kompetitif, siswa belajar dalam suasana persaingan. Oleh karena itu pembelajaran kompetitif bisa menimbulkan rasa cemas yang justru bisa merusak motivasi dan menciptakan suasana permusuhan di kelas. Anita Lie (2005) mengemukakan bahwa sering anak yang berhasil mendapatkan nilai yang tinggi dimusuhi karena dianggap menaikkan rata-rata kelas dan menjatuhkan teman. Sebaliknya, anak yang kalah dalam persaingan bisa menjadi antipati terhadap sesama siswa, guru, sekolah atau malahan proses belajar. Label sebagai seorang yang kalah dalam persaingan ini bisa menjadi stigma atau luka batin yang terus mengganggu sepanjang kehidupan seseorang.
Untuk mengatasi kelemahan belajar kompetisi ini, Slavin (1995) mengusulkan setting pembelajaran yang memiliki aspek kolaboratif. Salah satu pembelajaran yang memiliki aspek pembelajaran kolaboratif yang digunakan dalam pemecahan masalah adalah belajar kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja bersama dalam 4–6 orang untuk mencapai materi yang diberikan guru. Beberapa kelebihan belajar kooperatif diantaranya, para siswa diberikan kesempatan untuk mendiskusikan masalah, menentukan strategi pemecahannya, dan menghubungkan masalah tersebut dengan masalah-masalah lain yang telah dapat diselesaikan sebelumnya. Belajar dalam kelompok kooperatif dapat melatih siswa untuk mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan merangkum pendapat atau temuan-temuan tersebut dalam bentuk tulisan. Selain itu, pembelajaran koperatif juga dapat membantu para siswa meningkatkan sikap positif terhadap pelajaran fisika. Sehingga akan mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap pelajaran fisika yang selama ini banyak dialami oleh para siswa.
Menurut Lickona (dalam Sudana, 2004), ada delapan bentuk metode pembelajaran kooperatif yaitu (1) belajar berpasangan (learning partners), (2) susunan duduk berkelompk (cluster group seating), (3) belajar bertim (student team learning), (4) belajar dengan membahas berbagai topik dalam tim (jigsaw learning), (5) mengetes tim (team testing), (6) proyek kelompok kecil (small-group projects), (7) kompetisi dalam tim (team competition), dan (8) proyek untuk seluruh kelas (whole class projects). Sedangkan Slavin (1995) membedakan lima model pembelajaran kooperatif yaitu, (2) Teams Game Tournament (TGT), (3) Jigsaw II, (4) Team Accelerated Instruction (TAI), dan (5) Cooperative Integrated Reading Compostion (CIRC). Namun dalam penelitian ini, model pembelajaran kooperatif yang diimplementasikan adalah model Student Teams-Achievment Division (STAD) dan model Group Investigation (GI).
Model koperatif GI merupakan model pembelajaran kooperatif yang mengkombinasikan dinamika proses demokrasi dengan proses inkuiri akademik (Yasa, 2007). Kelas dibuat sebagai miniatur demokrasi yang menghadapi masalah, dan melalui pemecahan masalah siswa memperoleh pengetahuan dan juga menjadi kelompok sosial yang lebih efektif. Dalam model kooperatif GI siswa dikelompokkan secara heterogen berdasarkan jenis kelamin, kemampuan akademik, dan etnik.
Model kooperatif GI meletakkan dasar pada psikologi pendidikan John Dewey, yang mana dia percaya bahwa para siswa akan mengalami pembelajaran bermakna jika mereka mampu menunjukkan langkah-langkah penyelidikan ilmiah (Tsoi et al, 2004). Dalam proses pembelajaran dengan model kooperatif GI siswa diberikan memilih topik untuk diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam terhadap topik yang dipilih. Selanjutnya siswa menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas. Penerapan tahapan model pembelajaran kooperatif GI pada pelajaran sains dapat memunculkan keterampilan proses sains secara optimal, sehingga siswa dapat mengetahui bagaimana proses penemuan & pengetahuan yang dimilikinya serta bagaimana cara berinvestigasi & cara berpikir dalam belajar (Suma, 2004). Menurut Slavin (1995), terdapat enam tahap dalam menerapkan model pembelajaaran kooperatif GI yaitu (1) tahap grouping, (2), tahap planning, (3) tahap investigation, (4) tahap organizing, (5) tahap presenting, dan (6) tahap evaluating.
Sedangkan model pemebelajaran kooperatif STAD merupakan model pembelajaran yang menekankan berbagai ciri pembelajaran langsung, yang didasarkan pada prinsip bahwa masing-masing siswa bekerja bersama-sama dalam belajar dan bertanggungjawab terhadap belajar teman-temannya dalam tim dan juga dirinya sendiri. Model pembelajaran STAD menempatkan siswa dalam kelompok belajar yang heterogen dalam hal tingkat prestasi akdemik, jenis kelamin dan suku. Guru yang menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD selain mengacu kepada belajar kelompok siswa, juga menyajikan informasi akademik baru setiap minggu dengan menggunakan presentasi kelas.
Menurut Slavin (1995) terdapat lima tahapan dalam belajar dengan model pembelajaran kooperatif STAD. Tahapan tersebut yaitu: tahap menyajikan materi pelajaran (presentasi kelas), tahapan belajar kelompok, tahapan menguji kinerja individu, tahapan penskoran peningkatan individu, dan tahapan mengukur kinerja kelompok. Slavin (1995) juga memaparkan bahwa dengan pembelajaran STAD disamping mengubah norma yang berhubungan dengan peningkatan hasil belajar, juga memberikan keuntungan kepada siswa kelompok bawah maupun siswa kelompok atas yang bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Selain model pembelajaran, karakteristik siswa juga mempengaruhi kualitas dari hasil pembelajaran. Salah satu karakteristik dari siswa yang mempengaruhi kualitas dari hasil pembelajaran adalah jenis gaya kognitif. Yang dimaksud dengan gaya kognitif siswa adalah cara siswa menyusun dan mengolah informasi serta pengalaman-pengalaman yang berasal dari alam sekitar (Amrina, 2004). Gaya kognitif merupakan cara individu untuk mengorganisasikan, merepresentasikan, dan memahami pengetahuan yang ia peroleh dari hasil interaksi dengan lingkungan (Riding & Rayner dalam Chen dan Macredie, 2001). Gaya kognitif dapat didefinisikan sebagai langkah yang ditempuh individu untuk memproses informasi dan menggunakan strategi untuk melakukan tugas (Candiasa, 2002). Jenis gaya kognitif seseorang secara sederhana dapat diketahui melalui tindakan atau tingkah laku individu tersebut dalam memilih pendekatan dalam melaksanakan tugas, cara berkomunikasi dalam kehidupan sosial sehari-hari, cara pandang terhadap objek di sekitarnya, mata pelajaran yang cenderung dipilih atau digemari, model pembelajaran yang cenderung dipilih, cara mengorganisir informasi, dan cara berinteraksi dengan guru.
Menurut Candiasa (2002) gaya kognitif bersifat bipolar, yaitu memiliki dua kutub, namun tidak menunjukkan adanya keunggulan salah satu kutub terhadap kutub lainnya. Masing-masing kutub cenderung memiliki nilai atau dampak yang positif pada situasi tertentu atau sebaliknya memiliki nilai atau dampak negatif pada kondisi yang lain. Gaya kognitif dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu gaya kognitif field independent dan gaya kognitif field dependent (Witkin dalam Lu & Sen, 1995; Chapele dalam Wyss, 2002). Crowl, Keminsky, & Podell (dalam Bundu, 2003) memberikan pengertian dari masing-masing gaya kognitif tersebut, yaitu: a) field independent adalah gaya kognitif seseorang dengan tingkat kemandirian yang tinggi dalam mencermati suatu rangsangan tanpa ketergantungan dari faktor-faktor luar dan kurang dapat bekerja sama, b) field dependent adalah gaya kognitif seseorang yang cenderung dan sangat bergantung pada sumber informasi dari luar dan bekerja sama lebih baik dengan orang lain.
Siswa sebagai individu yang unik sudah tentu memiliki gaya kognitif yang berbeda dengan teman-temannya dalam satu kelas. Gaya kognitif yang dimilki oleh siswa akan memberikan dampak atau pengaruh yang positif apabila disediakan lingkungan dan kondisi yang tepat, sehingga siswa dapat belajar secara optimal. Siswa yang belajar secara optimal akan mencapai hasil belajar yang baik. Namun, jika kondisi atau lingkungan belajar siswa tidak sesuai dengan gaya kognitif yang dimilikinya akan membuat siswa tidak dapat belajar secara optimal. Hal ini akan berdampak negatif pada hasil belajar siswa itu sendiri. Jadi dalam menerapkan pembelajaran di kelas harus memperhatikan jenis gaya kognitif yang dimiliki oleh siswa.
Dari uraian di atas, bahwa model pembelajaran kuantum yang berbeda dan setting pembelajaran kooperatif (STAD dan GI) yang berbeda, yang memiliki karakteristik teoritik dan langkah-langkah pembelajaran yang berbeda, diduga akan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap kemampuan berpikir kreatif dan pemahaman konsep siswa. Begitu juga dengan gaya kognitif siswa (FI dan FD) yang memiliki karakteristik yang berbeda, diduga akan memberikan dampak yang berbeda terhadap cara siswa untuk memahami topik yang disajikan dan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa. Namun, seberapa jauh pengaruh model pembelajaran kooperatif dan gaya kognitif yang digunakan dalam pembelajaran fisika terhadap terhadap pemahaman konsep dan kemampuan berpikir kreatif siswa kelas VIII di SMPN 1 Denpasar tahun ajaran 2009/2010, pada pokok bahasan kinematika gerak lurus belum dapat diungkapkan. Untuk itu, peneliti ingin mengangkat masalah ini melalui suatu penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran kooperatif dan Gaya Kognitif Terhadap Pemahaman Konsep Fisika dan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas VIII SMPN 1 Denpasar Tahun Pelajaran 2009/2010”.

Kamis, 30 April 2009

YAYASAN WIDYA SANTHI MANDIRI


Yayasan ini didirikan pada tanggal 21 Mei 2007 di desa Tianyar Kabupaten Karangasem. Yayasan ini awal mulanya merupakan sanggar belajar bagi anak-anak miskin di karangasem. Akibat perkembangan ekonomi satu tahun kemudian mengalami perubahan nama